Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck

January 2, 2014
in Category: CarinoBliz
0 154 0

tenggelamnya-kapal-van-der-wijck

Suatu ketika, saya diajak ma @MicheleJess untuk menonton film ini, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Saya ga anti lho film Indonesia, namun saya memilih nonton film Soekarno-nya Hanung saja. Dan as always, saya selalu kalah waktu berdebat dengan @MicheleJess. Seperti ini kira-kira perdebatan kami:

Saya: Ah, ngapain nonton film Titanic Indonesia?

@MicheleJess: Bedaaaaaaaa, ceritanya bedaaaaaaaaaaaaaaa

Saya: Emang bagus?

@MicheleJess: Pemerannya terkenal-terkenal

Saya: Emang bagus, bagusan Soekarno ah, pemainnya Ario Bayu yang udah foto-foto ma Riadi dan banyak lagi yang terkenal

@MicheleJess: Bagusan film ini ah

Saya: Ya udah, beli deh

Pas beli ticket, rupanya film sudah mulai, jadi kami agak terlambat sekitar 5 menit. Cari tempat duduk, dibioskop yang hampir kosong, dan mulai menonton film-nya.

Wajah pertama yang saya kenali adalah Herjunot Ali sebagai Zainuddin, yang sedang mengobrol di film dengan Christine Hakim sebagai Mande Jamilah (yang baru saya tahu rapanya itu bukan Christine Hakim namun adalah Jajang C. Noer setelah film selesai Hahahahaha).

Film ini alurnya lambat, dengan kata-kata sesulit puisi saya, seperti ini Setitik Rayuan. #TetepPromo.

Film ini setting-nya keren sekali, dengan tata camera yang bagus, serti pencahayaan yang keren. Ini bukan film murahan, dan Hayati (Pevita Pearce) yang cantik sekali. Hihihihihi… (biarpun pas liet aslinya, bukan di film, kok jadi beda. :P).

PevitaPearce

 

 

 

 

Ada yang bilang ini nyontek “The Great Gatsby” dan “Titanic”, itu memang tidak pure sama sih, ya bisa dibilang sedikit penggalan cerinyanya mirip. Tapi apabila dialur dari awal, ceritanya jauh berbeda.

Apabila ada kritik, berikut kritik dari saya:

1. Poster film jelek banget yah….

2. Yang punya akting tingkat tinggi hanya Herjunot Ali dan Reza Rahadian (Aziz) yang menonjol, masih banyak yang kaku dan ga luwes dalam film ini. Junot sih keren banget, super keren banget.

3. Kapal Van Der Wijck-nya kok, hmmmm, anuuuuu, aduuuhhhh, nonton sendiri deh…

4. Lagu ajeb-ajebnya terlalu modern untuk setting tahun 1930-an.. Hihihihihi….

Menurut saya sih, banyak hal yang seru untuk didiskusikan setelah film ini selesai, selain tata layar film ini seru untuk dibicarakan, acting para lakon yang bagus (ataupun ada yang “biasa” saja), bahasa Minang yang lucu (keinget temen-temen kost yang dulu dari Padang), misteri dalam cerita tersebut, dan bagaimana kita terbawa oleh suasana film yang cantik.

Film ini diangkat dari novel dengan judul yang sama, dan yang saya pribadi suka adalah film ini mengajarkan kemajemukan yang saat ini sudah mulai menipis.

Untuk rating dari CarinoZ  untuk film ini adalah 8/10.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>