Saya tidak suka mainan dalam Blind Box

Saya tidak suka mainan dalam Blind Box

Statement gw clear, mainan dalam blind box itu judi, itu adalah gambling, itu bermain di area yang menurut saya melakukan manipulatif perasaan manusia demi sales. Gw agree juga, yang mendesign hal ini, adalah salah satu jenius dari sisi sales. Namun, gw sangat tidak setuju dengan cara ini. Ini termasuk, "blind box" dalam dunia game digital juga, same concept beda channel aja.

Minimal, gw merasa ada 3 problem utama dalam hal-hal "perjudian" dalam bentuk Blind Box ini:

  1. Menjual harapan dalam ketidakpastian

Ini yang menurut gw paling bahaya, dan ini salah satu sasarannya kan anak-anak. Kenapa ini menurut gw masalah besar? Karena sebagian besar anak-anak itu belum ready mental, jiwa, serta pikirannya apabila harapan dan ketidakpastian dibenturkan dalam blind box. Kita beranalogi seperti ini. Ada harapan/keinginan/kepengen dari si anak, misalnya mendapatkan yang paling dia suka dari pilihan-pilihan yang ada dari Blind Box itu. Kemudian dia berharap, ini masalahnya dia berharap dengan ketidakpastian. Ini damage nya besar untuk anak (atau bahkan orang dewasa). Damage-nya di mana? Gw adalah tipe orang yang percaya ketidakpastian, tapi gw ga suka orang berharap pada ketidakpastian. Target hidup kita itu harus pasti, at least terlihat. Target itu mesti clear. Gw membayangkan, apabila anak-anak, "dilatih" berkali-kali dengan hal seperti ini, waktu mereka harus take decision hidup yang sebenarnya, kemampuan untuk take decision akan sangat lemah, karena dasar pemikirannya selevel blind box. Harapan itu baik. Ketidakpastian itu PASTI. Namun, berharap pada ketidakpastian, itu judi. Judi itu bodoh. Blind Box itu adalah sistem yang didesign dengan sangat sistematis untuk memicu dopamin loop yang SANGAT SEMU. Semua karena bermain di artificial scarcity, dan semua bisa dikondisikan oleh produsen/sales.

  1. Tinggal beli lagi

Apabila gagal mendapatkan yang dimau, pikiran akan dipermudah, untuk tinggal beli lagi aja. Coba lagi aja. Siklus berharap pada ketidakpastian balik lagi. Mentality "tinggal beli lagi" ini akan menciptakan kesemuan terhadap konsumenisme yang berlebihan. Terkadang, hidup itu ga bisa dinilai dengan membeli, apalagi membeli dari sesuatu yang tidak pasti. Untuk anak atau orang yang belum punya control terhadap jiwa IMPULSIVE mereka, prefrontal cortex belum matang, serta terkadang kan belum bisa bedakan mana entertainment mana jebakan, akan makin tergiling dengan hal-hal negatif blind box ini.

  1. Berdoa untuk hal yang ga penting

Gw yakin, untuk sebagian orang sewaktu mau membeli Blind Box, dia/mereka pasti berdoa. Berdoa agar dapat mainan yang mereka mau dapatkan. Tuhan yang mendengar doa itu, kira-kira Beliau respond nya gmana?

Yang bisa gw lakukan, gw itu "mengharamkan" anak-anak gw untuk membeli blind box, main capit boneka, gatcha-gatcha ga jelas di game digital. Minimal, itu yang gw bisa control. Gw ga bisa membayangkan mereka waktu dewasa ntar, misalnya mau kerja mereka memilih salah satu dari 6 box kosong, waktu mau menikah ntar memilih dari 6 pintu kamar calon istri/suami. Kalau ga sesuai espektasi, tinggal buang? Kan ga bisa gitu hidup.

Hidup penuh ketidakpastian.
Tapi hidup yang sehat adalah memperkecil ketidakpastian dengan skill, kerja, dan keputusan sadar.
Blind box melakukan kebalikannya.
Ia mengajari kita menikmati ketidakpastian itu sendiri.