The Power of Acceptance

Gw selalu mikir, apakah memang manusia itu tidak pernah puas? Ada istilah, dikasih hati malah minta ampela… Hehehehe…. Kadang dalam pengen mencapai sesuatu, akanlah menjadi sesuatu yang lumrah dalam hidup. Contoh simple-nya: sekarang sudah mendapatkan gaji 10 juta rupiah, pasti pengen mendapatkan 20 juta rupiah.

Akan keluar kata-kata “ambisius” untuk melukiskan kerakusan manusia tersebut. Ga akan pernah puas, ga akan pernah mau berhenti. Salahkah itu? Jawaban dari pertanyaan ini tricky. 

Ini adalah sudut pandang gw untuk hal ini. Gw selalu melihat penggapaian akan harapan seseorang merupakan sebuah hal. Itu adalah hasil, dan apabila seseorang sudah mendapatkan hasil tersebut, kenapa dia ga puas? Terus malah mau mendapatkan lebih?

Jawaban dari pertanyaan mengenai kepuasan itu harus dijawab dengan pertanyaan lagi yaitu “Apa sih yang membuat lo puas?”. Oke, si A jawab, gw mau kaya. “Kaya” itu ga cukup menggambarkan. Harus dicari lebih dalam lagi. “Mau sekaya apa?”. Si A jawab lagi, mau kaya bangetz, pake Z ya. It’s fine, harus diperdalam lagi. “Bangetz pake Z itu berapa dollar?”. Si A jawab lagi. 1000 billion dollar!!!! Oke, berarti lo akan PUAS ya kalo duit lo udah 1000 billion dollar. Harus diakhiri dengan pertanyaan terakhir. “Target lo berapa tahun lo dapet 1000 billion dollar?”. Si A menjawab 20 tahun!!! Itulah takaran kepuasan si A. Nah, kita semua harus tau titik kepuasan kita itu, kalo ga ya kita ada di kategori manusia kedua, yaitu hidup tanpa tujuan. Pertanyaannya harusnya bukan “Kenapa sih manusia itu ga pernah puas?” namun “Eh, lo dah tau belum titik kepuasan lo?”.

Nah, si A akan berusaha keras untuk mendapatkan tujuan hidup dia 1000 billion dollar, dengan cara dia dengan hidup dia. Akan muncul pertanyaan lain sembari berjalannya waktu. Eh misalnya 20 tahun kemudian si A kekayaannya gagal mencapai 1000 billion dollar. Apakah yang akan terjadi dengan si A?

Disitulah point “Acceptance”. Acceptance bukan artinya “Pasrah”, tapi Acceptance itu artinya lebih ke arah introspeksi diri. Acceptance itu sendiri malah melihat jauh kedalam, apa ya yang salah dari diri sendiri, dan mempelajari pola apa yang harus diperbaiki. Gagal? Iya, si A gagal mendapatkan 1000 billion dollar dalam waktu 20 tahun. Stress atau gila si A, itu tergantung dari si A, apakah dia punya jiwa yang besar dalam Acceptance? Bagaimana dia melihat kegagalan dia mendapatkan 1000 billion dollar dalam 20 tahun? Apa langkah selanjutnya dalam hidup dia? Menjadi manusia tipe kedua, yang ga mempunyai tujuan hidup?

Acceptance merupakan inti dari sebuah hidup. Gw tetep yakin, manusia yang bijaksana adalah manusia yang bukan mencari harta duniawi, namun adalah ketenangan batin. Untuk mencapai ketenangan batin, beban nafsu dan hasyat duniawi harus hilang dulu. Ah, ini malah melenceng dari Acceptance itu sendiri, oke back ke topik semula.

Acceptance itu adalah lapang dada melihat satu hal dari berbagai sisi. Gagal adalah gagal. Sukses adalah sukses. Hidup adalah hidup. Kedewasaan berpikir dan bertindak adalah Acceptance itu sendiri.

Acceptance itu sendiri adalah kemampuan manusia untuk mengukur kemampuan dan memberikan proyeksi yang tepat akan cita-cita dia. Acceptance itu yang kadang tidak terlihat dari dari zaman gw kecil sampai beberapa tahun belakangan. Kenapa? Karena ada pepatah “Gantungkanlah cita-cita lo setinggi bintang di langit”. Anak kecil, TK, dikasih tau kayak gitu mana ngerti. Paling jawabannya professi yang dia tau (karena doktrin orang tuanya) yaitu DOKTER, INSINYUR, PROFESSOR, PENGUSAHA, dll. Itu adalah sesat, PERCAYALAH. Cita-cita itu adalah sesuatu yang bisa diukur, bukanlah bintang di langit yang jaraknya 1 millar tahun cahaya.

Balik lagi, bagaimana kita memproyeksikan cita-cita kita. Biarkan itu anak TK berkembang, pantau bakatnya, lihat dia sukanya apa, dan arahkan dia sesuai bakat dia. Sejalan waktu, dengan kedewasaan dia berpikir, dia akan memilih dan menentukan cita-cita dia sendiri. Dia akan melakukan Acceptance dimana dia mengerti kemampuan dia, dan mengukur proyeksi masa depan dia, cita-cita dia.

Acceptance itu juga adalah bisa mengerti bahwa diri dia sendiri tidaklah sempurna, dan ada orang lain yang lebih baik dari dia. Apabila ada orang lain yang lebih baik, apa yang harus kita lakukan? Iri, dengki serta dendam kadang menjadi jalan keluar. Coba mikirnya gini. gw Acceptance diri gw emang SAAT INI kalah dari DIA, gw akan belajar lagi lebih BAIK dan suatu saat gw akan LEBIH BAIK dari DIA.

Acceptance itu adalah ketenangan. Emosi dan dendam adalah satu titik dimana Acceptance itu akan lenyap.

 

 

Darwin Susanto

Darwin Susanto

Diving to Digital Marketing, and believe Marketing must be fully supported by Creativity and Technology.