Problem Solving

Satu hari dalam minggu ini, gw ikut meeting bareng team gw untuk ke salah satu client/customer untuk doing technical assessment serta finalize requirements. Gw di sana hanya ikut-ikutan aja sih, yang nge-lead meeting team gw, si project manager di project itu, Filbert. Bareng dia, ada Bu Della - Business Analyst serta pak Tech Lead, William.

Gw dengerin mereka diskusi dengan client.
Gw coba pahami mereka.
Gw menunggu kapan waktu gw untuk bantu jelasin kalau ada yang kurang jelas atau membingungkan.
Gw berharap, gw bisa bantu mereka untuk convincing client.

Dan rupanya ga perlu ada gw di sana.
Mereka udah sangat jago.
Mereka udah luar biasa.


Di lain tempat, di waktu yang bersamaan, ada diskusi di group chat, terkait teknologi Docker, Kubernetes, Istio, Jenkin, Jboss dll.
Gw sih jujur roaming.
Ken di sana, udah menjadi master bisa reply apapun inquiry dari principal.


Serta di project-project lain yang sedang jalan bareng sekarang. Team UI UX udah ok, team creative udah mantep, team project native code udah auto pilot, serta yang project-project lain udah pada track yang menurut gw dah sesuai yang diharapkan. Para Project Manager berjalan mantap. Team BA ya sedikit-sedikit gesekan ma orang, gw masih menilai itu wajar.
Serta teman-teman developer luar biasa speed-nya.


Kalaupun boleh gw punya keinginan tambahan.

Gw ini sejujurnya males bawel di group. Gw ga suka ketik-ketik, karena HP gw kecil dan jempol gw gede. Kalau sampai gw ketik di group chat, berarti gw itu udah ga tahan. Ada yang ganjel, atau ada case/problem yang muter-muter ga karuan.

Improvement yang masih gw harapkan dari team adalah Problem Solving yang bener. Beberapa case yang kadang gw jumpai :

  1. Ada problem, tapi team ga sadar atau belum tau kalau itu potensi problem
  2. Ada problem, (ada anggota team) yang tau namun pura2 ga tau atau ga mau tau
  3. Ada problem, semua anggota team tau tapi ga tau mesti ngapain
  4. Ada problem, semua anggota team tau tapi cara solvingnya kurang tepat
  5. Ada problem, semua anggota team bareng-bareng solvingnya, karena belajar dari problem yang udah pernah kejadian sebelumnya

5 hal diatas, gw ga suka semuanya. Biarpun nomor 5 itu adalah inti dari Ifabula (teamwork), tapi kalau itu terjadi, gw ga happy.

Espektasi gw, by default, gw ga suka terjadi problem dan ada superhero yang solving the problem. Udah kebakaran, dan ada pemadam kebakarannya. (Note : by nature, memang typical pemadam kebakarannya ini adalah key person, tapi kalau tiap hari kebakaran, lama2 si abang2 ataupun adinda pemadam kebakaran itu akan pingsan juga).

Gw pengennya : preventive action. Prepare semua hal, projection risk(s), mitigasi semua resiko sebelum meleduk. Ini sisi conservative nya gw, gw akan sangat bawel untuk beberapa area. Gw akan cecar dan kejar terus.
Cuma, gw ga berharap siapapun follow cara gw ya, kalau ada yang lebih baik, gw sangat happy.


KALAU.
Semua hal sudah dipersiapkan.
Semua hal sudah dijaga.
Kira-kira resiko sudah dibuang-buangin.
Semua document sudah disiapkan.
Segala persiapan harusnya aman.

Tapi tetap terjadi PROBLEM. Harus gmana ?

Istilah pemadam kebakaran (firefighter) muncul, dan persiapannya banyak :

  1. Dia harus tau peta atau layout gedung yang kebakaran
  2. Pertahanan diri dia banyak, helm, baju anti bakar, tabung oksigen
  3. Air

Peta atau layout gedung itu adalah deskripsi yang clear tentang kondisi project, tanpa asumsi dan tanpa bumbu. Sesuai realita dan fakta.

Helm, baju anti bakar, tabung oksigen itu skill. Negotiation skill bisa. Coding atau technical skill oke. Analysis skill oke. Anger Management skill itu oke (ga ada gunanya waktu ada problem kita ikutan marah2 juga). Serta skill-skill lain yang memang menunjang.

Air, itu ketenangan dan kejernihan. Kadang tenang. Kadang kencang.
Ini mental.


Please put attention, kebakaran itu musibah. Pasti ada korban. Firefighter itu hanya memadamkan api, dan menyelamatkan sebanyak yang dia bisa.
Tolong focus di area preventive dan jaga agar tidak kebakaran.