Avoid Negativity

Avoid Negativity

Kita itu biasanya as manusia, itu denial
Terkadang excuse
Seringkali negative
Nah, yang menjadi salah satu masalah lain itu terkait acceptance negativity.

Oke, gw bukan psikolog. Ga ngerti bahkan gitu2an. Tidak berani mengerti, karena itu area yang luas dan sensitif untuk gw.
Tapi yang gw mau highlight terkait si "teori Darwin" ini terkait acceptance negativity, gw terkadang bingung dengan hal tersebut.

Contoh:
"Saya emang orangnya ceroboh"
"Aku tuh emang gini, anaknya telat mikir mulu"
"Gw itu emang gitu win, bodoh gw orangnya. Boros lagi."
"Kantong gw bolong"
"Emang miskin melarat gw"
"Stress gw, mau beli motor ga kebeli2"
"Aku tuh jelek orangnya, makanya ga ada pacar"
"Keluarga besar gw bobrok semua"
"Udah tua gw"
"Hidup gw ya gini2 aja"
dan ada yang mirip2 tapi beda topik aja, yang lain.

Nah, respon gw biasanya sama orang2 gini yang misalnya kebetulan ngobrol sama gw, jawaban or respon gw "Terus?"

Okay, kenapa gw nanya "Terus?" ?
Karena gw pengen tau, apa NEXT or TERUS dari statement itu. Kenapa ini penting? Karena gw itu pengen tau, yang punya statement itu apa ujungnya. Dan terkadang gw berharap, dia / mereka tipe orang yang realistis.

Espektasi gw, contoh case:
Teman: "Aku tuh jelek orangnya, makanya ga ada pacar"
Gw : "Terus?"
Teman: "Ya gpp. Emang gw butuh pacar?"

Nah, apabila contohnya seperti ini, gw berasumsi (belum tentu bener ya), ya dia baek2 aja. Level dia emang ga butuh pacar, ya dia punya source of happiness yang lain.

Okay, yang jadi masalah gw adalah apabila temen-temen itu ngomong hal-hal tersebut di atas, kemudian TITIK. Itu masalah mengganjal di saya, biarpun bukan masalah saya juga sih. Tapi, mengganjal aja.
Kenapa ada orang yang udah di level melakukan acceptance negativity terkait dengan hal-hal yang umumnya kita nilai sebagai hal-hal yang negatif, misalnya miskin, jelek, lemot, bodoh, boros, stress, dan level-level sejenis. Dan, semakin lama, semakin terjerumus di lobang itu, kemudian muncul lobang "negativity" lain lagi, dan masuk lagi. Pribahasa, Gali Lobang Tutup Lobang, ga kepake dia dia, wong dia kerjaannya gali lobang mulu.

Kenapa TITIK aja, kenapa ga ada next-nya, ga ada tanda KOMA-nya, at least ada sesuatu yang di-offer. Dan itu ga ada benar apa salahnya.
Contoh case lagi:
Teman: "Emang miskin melarat gw"
Gw : "Terus?"
Teman: "Gw pengen coba persugihan?"
Gw : "Di mana? Gw mau ikut"
At least ya, ada sesuatu yang di-offer, ada sesuatu yang mau diperjuangkan. Dan, gw bisa tau mungkin ada semangat di dia. Benar apa salah, ga ada yang tau.

Kemudian, masalah terbesar orang-orang yang doing acceptance negativity ini atau orang-orang suka bikin lobang-lobang ini, adalah mereka secara tidak sadar menyebarkan negativity ini, berasa. Itu jadi masalah gw, biarpun itu masalah mereka. Kenapa jadi masalah gw? Karena gw ga nyaman sama orang-orang gitu. Auranya aneh. Auranya merusak. Auranya itu membuat kita pengen jauh-jauh dari dia.

Beneran, gw prefer nememin orang yang mau ke persugihan itu mendingan.

Namun, kita bicara corak atau ciri orang-orang yang melakukan pekerjaan bikin lobang-lobang ini:
1. Ngeluh terus
2. Ngeluh terus
3. Ngeluh terus
4. Minta simpati, dari siapapun
5. Ngeluh lagi
6. Waktu ada masalah, ngeluh lagi
7. Abis ngeluh, salahin orang lain or excuse
8. Kalau gagal, dan terpojok sama kondisi, doing self destroyment (salahin diri sendiri)
9. Abis itu kabur
10. Di tempat baru, ngeluh lagi


Oke-oke, gw bukan menolak itu ngeluh-ngeluh, tapi gw akan default nanya "Terus?". Jawab itu dulu.
Hidup emang tidak ada yang perfect.
Situasi itu sangat tidak menentu.
Problematika antar manusia itu pasti ada.
Plan itu rusak, ya itu selalu.


Tapi, gmana diri kita pribadi menyikapinya, bukannya itu yang paling penting?

Apabila, jawaban or respon diri adalah "ya sudah, gw lanjutin yang lain ah", atau "gw masih mau fight", itu kan terkait pilihan. Gw ga berpikir, kita harus tetap fight terus untuk segala macam hal. Kita harus berantem terus untuk segala macam hal, serta kita harus berusaha menjadi orang yang "POSITIVE" terus, itu bukan hal yang rasa bener (selalu melihat hal itu hal positive juga bukan hal yang bijak, karena jelas-jelas dunia ini ada POSITIVE NEGATIVE, YIN dan YANG). Kalau selalu melihat dunia ini indah, ini akan create problem lain lagi.

Namun, kita harus juga melihat clear untuk hal-hal seperti ini. Pandangan-pandangan seperti ini akan seperti pandangan "Orang Positif" yang melihat dosa-dosa itu "Orang-orang Negatif", seakan-akan orang positif adalah dewa, sedangkan orang-orang "negatif" itu adalah setan. Ndak fair juga, apakah itu orang-orang positif lebih baik? ya belum tentu.

Orang-orang "negatif" itu mungkin bisa dibagi jadi 3:
1. Yang emang butuh didengar aja, di-ayomi, ditemani. Perlu ditatap matanya saja
2. Yang butuh opsi / solusi / bantuan
3. Butuh ke klinis levelnya

Jadi, balik ke core diskusi lagi. Kita tidak boleh melakukan labeling orang-orang tertentu, tapi kita juga belum ada teknologi untuk membaca pikiran terdalam orang-orang. Titik temu yang pas adalah menelusuk diri sendiri, kita itu siapa, sanggupnya apa, butuhnya apa. Yang perlu kita jauh-jauhi itu adalah sebenernya "learned helplessness", tipe-tipe orang yang udah TITIK aja. Berbagai angles, dia TITIK. Berkali-kali kita tanya, dia TITIK.

Orang-orang yang masih bertipe Acceptance Negativity, mungkin masih bisa jadi temen kitalah ya.
Tapi harus clear garisnya:
Ada 1 kalimat dari temen gw "Kita jangan bantu orang yang ga mau dibantu", ini bisa luas dan bijak artinya.
Mungkin si dia itu, emang ga butuh kita bantu. Cuma butuh kita dengerin. Emangnya kita superman, mau bantuin semua orang? Mungkin, kita cukup jadi pendengar yang baik.

Atau lebih extreme-nya, ini udah diluar kemampuan kita, harusnya ke wilayah psikologi dan klinis.

Kita harusnya bisa sama-sama realistis. Masing-masing sisi itu, kita harus clear aja maunya apa.
Misalnya mulai dari pertanyaan "Lo itu ngomong itu, lo sendiri dari lubuk hati lo mau berubah atau cuma cukup gw dengerin?"
Dari sana kita mulai mengukur, sama-sama.
Si A menilai ini orang bisa ga sih dicurhatin / diminta saran.
Si B menilai, diri dia itu levelnya apa? Jangan-jangan dia bukan orang yang pantas untuk di titik itu

Ada beberapa fakta yang kita harus aware juga:
Orang itu bisa sedih -> tapi ya tetep sehat
Orang bisa pesimis -> tapi baguslah bisa jagain batas bawah/preventive
Orang bisa marah -> tapi mungkin bisa rasional juga

Fakta sisi berikutnya:
Lo dah dengerin dia -> dia lebih lega dan bisa melanjuti hidup?
Lo dah kasih dia opsi -> dia gerak ga?
Lo dah diskusi berulang kali sama dia gini -> apa dia masih "GALI LOBANG LAGI?"