Biarlah yang hitam menjadi hitam Jangan Harapkan Jadi Putih

Suatu ketika saya mendengarkan lagu di Tracklist pada saat bersama driver saya waktu perjalanan untuk meeting ke Bintaro. Berikut petikan lirik lagu tersebut yang membuat saya tergoda.

Biarlah yang hitam menjadi hitam – Jangan harapkan jadi putih – Biarlah rembulan di atas sana – Manalah mungkin turun kesini

Saya melakukan pencarian lebih detail mengenai detail lagu ini. Ini adalah lagu lama, yang memang mempunyai beberapa versi dan penyanyi. Rupanya lagu “Tangan Tak Sampai” yang saya dengarkan adalah versi Christine Panjaitan. Lagu yang indah.

Saya tidak akan membahas lagu Tangan Tak Sampai dalam post ini, namun saya melihat ada hal lain yang sangat menarik yang perlu kita telaah lebih jauh dari potongan lirik lagu ini.

Saya membuat kesalahan besar beberapa hari yang lalu. Saya bertengkar dengan @MicheleJess. Pertengkaran besar menyangkut masalah yang prinsipal. Ada 2 point yang besar yang membahana dalam pertengkaran tersebut, saya akan bahas salah satunya dalam post ini.

Saya dan @MicheleJess adalah 2 pribadi yang sangat berbeda, sudah saya jelaskan dalam post @carinoz vs @MicheleJess. Kami dibesarkan dalam budaya yang berbeda dengan pola asuh yang sangat berbeda oleh kedua orang tua kami. Kami pun dewasa dalam lingkungan yang sangat berbeda yang mana ini adalah hal yang fundamental dalam perkembangan kedewasaan kami.

Saya mempunyai sudut pandang sendiri mengenai keluarga, @MicheleJess juga punya. Ini menjadi suatu pertentangan keras dalam sudut pandang kami.

Kesalahan saya adalah memaksakan sudut pandang saya kepada @MicheleJess. Harusnya biarlah hitam menjadi hitam, jangan harapkan jadi putih.

Menjadi unik itu adalah hidup dalam perbedaan. Mengambil kata2 dari @corbuzier pada soundcloud dengan judul Kita Indonesia, Pelangi itu indah karena banyak warna di dalamnya. Analogi pelangi dalam melukiskan indahnya perbedaan adalah sesuatu yang luar biasa.

Berbeda itu harus. Berbeda itu indah. Tuhan suka segala sesuatu yang indah.

Kita itu terbiasa memandang diri kita itu benar dan orang lain harus mengikuti keinginan kita. Itu yang saya lakukan kepada @MicheleJess dalam beberapa tahun ini. Setiap pandangan dari saya, menurut saya itu yang terbaik untuk kami. Itu salah. Kami bisa berpacaran selama hampir 6 tahun dan sekarang sudah menikah adalah karena perbedaan itu. Karena perbedaan itu kami menjadi unik. Masa saya mau menghilangkan keindahan yang sudah kami bina dalam beberapa tahun ini?

Biarlah yang hitam menjadi hitam, jangan harapkan jadi putih. Tetap biarkan seseorang dengan keunikan pribadinya. Biarkan seseorang menjadi dirinya sendiri. Disitu tingkat indahnya, disitu serunya.

Yang sama di semua manusia adalah jumlah kromosumnya yaitu 46, selain itu semua adalah berbeda sampai pada kode DNA. So, janganlah menyamakan diri kita dengan orang lain dan jangan membedakan orang lain dengan diri kita.

Kita cuma bisa memberikan pandangan diri kita mengenai sebuah hal. Kita bukan polisi moral ataupun polisi kepribadian yang harus memaksakan sesuatu ke orang lain. Konsepnya simple, following atau follower. Ikutilah orang-orang yang mempunyai pandangan yang baik dan jadilah teladan bagi orang lain.

Yang menentukan mau berubah atau tidak adalah diri sendiri. Apabila hitam mau menjadi hitam, biarlah tetaplah menjadi hitam, serta kita sebagai pribadi yang unik dan berbeda jangan memaksakan si hitam menjadi putih.

 

 

 

 

 

Darwin Susanto

Darwin Susanto

Diving to Digital Marketing, and believe Marketing must be fully supported by Creativity and Technology.