Filosofi Makan

Gw ini adalah orang yang sangat simple, namun terkadang sangat complex. Nah, bingung kan apa maksud kalimat sebelumnya?
Nah, itulah complex-nya gw. Gw aja bingung ma diri sendiri terkadang.

Bahkan, untuk hal makan aja, gw itu masuk golongan, simple tapi complex. Ada beberapa hal yang menjadi consideration saya terkait makan dan makanan, yaitu sebagai berikut :

1. Gw ga mau antri kalau makan atau ke restaurant
Oke oke, biar jelas kayak gini. Yang gw maksud "antri" itu adalah misalnya waiting list sampe lebih dari 5 orang, dengan perkiraan waiting time 30 menit untuk sekedar duduk di restaurant-nya.
Kenapa gw berpikir seperti itu ?
Karena secara INPUT, gw percaya ada 2 INPUT terbesar untuk hidup manusia : Makan (termasuk minum) dan Jiwa. Gw ga akan bahas terkait Jiwa ya, tapi gw akan bahas pemikiran gw terkait Makan. Makan dan minum itu ada salah satu REJEKI. Ini penting. Banyak orang-orang berpikir bahwa DUIT itu adalah rejeki, pdhl menurut gw, DUIT itu bukanlah rejeki. Rejeki itu adalah sesuatu yang kita butuhkan dan impactful untuk diri kita, Jiwa dan Raga. (Tapi pasti ada yang mikir, beli makan ya pakai duit woy. Ya ga salah, tapi bisa juga bisa makan tapi ga pakai duit kan? Jadi duit itu salah satu FASILITATOR untuk lo bisa makan. Ada kalanya, punya duit, tapi ga bisa makan.)
Oke, kita balik, ke konsep berpikir gw.
Makan (dan minum) adalah rejeki.
Jadi, makan itu mesti enak.
Makan itu mesti hati senang.
Makan itu mesti menikmati.
Makan itu mesti bahagia.
Agar makanan kita itu bisa diproses dengan baik dan bisa buat kita sehat.
Nah, Gw itu, kalau ANTRI dan LAMA, bikin gw ga bahagia. Daripada gw ga bahagia, ya mending gw ga makan dan cari yang lain. Karena prinsip gw, karena makan itu REJEKI, harus bisa dinimati cepat, enak, dan bikin bahagia. Cukup cari DUIT or FASILITAS aja yang ANTRI, REJEKI ga boleh antri.
(Tapi bagi orang lain yang antri untuk makan sesuatu yang gpp, dan biasa aja, or bahkan bisa bikin makin seru hidupnya, ya nikmati saja).
Tapi, untuk gw pribadi, seenak apapun makanannya, pantang untuk saya untuk antri. Kecuali, hype udah hilang, dan agak sepi, boleh lah mampir. Yang kita makan adalah makanannya, bukan kehebohannya.

2. Makan itu ga boleh manipulatif
Cukup dunia yang manipulatif, atau jiwa kita sendiri yang suka memanipulasi diri sendiri, tapi makanan harus apa adanya.
Jadi, kalau ayam, ya itu ayam.
Gw menolak keras jenis makanan GASTRONOMI. ITU PENIPUAN MATA, LIDAH, DAN PERASAAN.

3. Makan ga boleh berlebihan
Gw ya, makan biasa aja. Jadi gendut, sembari bertambahnya usia. Ingat, segala yang berlebih itu tidak baik, makan sayur sawi putih berlebih aja bisa bikin kita sakit, makan kangkung kebanyakan aja ga baik.
Dan makan hati kebanyakan juga ga baik, untuk kita. Kita semua.

4. Makan itu bukan untuk dipamerin
Ga ada gunanya, percaya deh, foto-foto makanan kemudian posting ke IG/Tiktok, kecuali kalian itu emang cari duit jadi food reviewer, atau emang jiwa dengki kalian untuk iming-imingin temen kalian di WA Group, dan gagalin diet mereka.

5. Makanan itu harus dihabisin
Ya, masih sama prinsipnya. Makanan itu REJEKI, rejeki itu bukan untuk disia-siakan, walaupun cuma 1 butir nasi di piring.

6. Apabila hati bahagia, makanan menjadi lebih enak
Misalnya, di Bali. Gila, enak-enak banget ya makanan di sana. Ikan goreng + sambel + sop, itu enak banget. ROTI, yang dijual di Bali, lebih enak dibanding merk yang sama, yang dijual di JakSel.
Kenapa?
Karena kalian lagi vacation mode, hati bahagia. Lidah lebih sopan, lidah lebih legowo. Jadi, apapun yang dimakan, besar kemungkinan, akan ENAK.
Jadi apabila kuncinya adalah makan itu harus hati bahagia, kenapa harus antri kalau makan? (BALIK LAGI HAHAHAHAHAHA)

.

Darwin Susanto

Darwin Susanto

Diving to Digital Marketing, and believe Marketing must be fully supported by Creativity and Technology.