Hidup itu seperti nyetir mobil

Dipagi hari, bermacet ria di toll Jakarta.

Gw mikir, mungkin, hidup itu seperti nyetir mobil.

Waktu pagi hari, mobil sebaiknya ga jalan langsung. Katanya harus dipanasin dulu.
Atau, kita pagi-pagi nyantai sebentar baik x ya, jangan langsung kerja. Ngopi dan telur ayam kampung 3/4 matang mungkin bagus untuk mikir dulu.

Gw jarang pake klakson, bukan karena gw mau hemat-hemat aki mobil.
Tapi karena gw ga mau berisik aja, biarpun kadang kala ada orang yang suka emosi di jalan.

Lampu depan, ada lampu dekat + lampu jauh + fog lamp, agar kita punya alat projection, di depan itu ada apa, jadi bisa aba2 dari jauh.

Dasbhoard, dengan komposisi seperti speedometer, indicator bahan bakar, indicator suhu, jarak, engine, dll.
apakah kita punya semua ukuran itu dihidup kita ? Atau rupanya kita buta selama ini ?

Kadang modifikasi mobil, dengan velg 22, bemper ceper, pakai sayap belakang, lampu kolong, sound system ratusan juta, dll.
Estetika ?
Pamer ?
Sesuai kegunaan ?
Atau memang kewajiban agar bisa survive di kehidupan ? Misalnya memang punya bengkel modifikasi mobil, dan hidup dari sana.

Kaca depan mobil, lebih besar dari kaca belakang, agar kita lebih focus ke masa depan, bukan masa lalu.
Namun kaca belakang, termasuk 2 spion samping, kita juga perlu "belajar" dari berbagai angle dari masa lalu serta waspada juga.

Kadang hidup itu lancar, jadi kita bisa ngebut.
Kadang macet juga, seperti pagi ini.

Bahan bakar mobil juga menentukan, Ron 90 dan Ron 98, menentukan speed + accelaration + kesehatan mesin.
Seperti makanan yang kita makan.

Services berkala, dengan KM tertentu dan waktu tertentu.
Seperti waktu istirahat, kadang teratur, seringnya ga teratur.

Interior mobil, untuk 2 orang.
Atau bisa 50 orang.
Kadang menentukan kita bisa jalan bareng dengan sedikit sahabat, atau bisa jalan bareng rame2.

Interior mobil, bisa banyak tombol elektronik seperti kebanyakan mobil eropa.
Atau sedikit tombol dan hal-hal elektronik lainnya, seperti kebanyakan mobil jepang di Indonesia.
Kita butuhnya seperti apa, mampunya seperti apa.

Jalan yang dilalui bisa jalan beraspal, lenggang + ada Patwal
Atau kita harus jalan yang bergelombang, berlubang, macet, serta berdebu.

Ada pepatah, hidup itu seperti roda, katanya "berputar"
Menurut gw, hidup itu seperti naik mobil balap, kita harus memilih, menjadi pembalap Nascar yang berputar di lintasan yang sama sebanyak ratusan kali, atau jadi pembalap rally Paris-Dakar, dengan rute tak beraturan.

Yang kadang terlupa,
Kita mau kemana naik mobil itu.

Darwin Susanto

Darwin Susanto

Diving to Digital Marketing, and believe Marketing must be fully supported by Creativity and Technology.