Membuat Sesuatu yang Baru

Sesuatu yang baru merupakan yang paling vital untuk seorang kreator, bergerak dibidang manapun. Menciptakan hal yang baru dan identitas ciptaan tersebut yang digabungkan degan keunikan ciptaan tersebut akan menjadi hal yang akan terus menjadi “masalah” paten.

Saya kebetulan lahir dan besar di sebuah negara yang latah akan segala sesuatu. Sebagai contoh Starbucks Coffee menjadi trend, ada yang membuka cafe dengan konsep serupa. Ebay terkenal dengan toko online-nya, ada yang membuat website yang serupa. Sampai merambah ke ranah seni, misalnya Film dengan genre tertentu terkenal, berbondong-bondong juga orang-orang membuat film dengan genre tersebut.

Apakah latah tersebut salah. Pendapat saya, latah tersebut tidaklah sepenuhnya salah.

Namun bagaimana kita melihat latah tersebut dengan sudut pandang lain, ini yang menjadi seru. Untuk mencoba menjabarkan hal ini lebih jauh, saya akan mencoba menjelaskan dengan contoh.

Jepang. Setelah kalah total pada saat perang dunia kedua, Jepang hancur lebur. Yang menjadi menarik adalah cara Jepang untuk bangkit. Dengan hutang pasca perang yang luar biasa besarnya, Jepang mempunyai cara yang luar biasa untuk bangkit. Perjuangan untuk bangkit adalah dalam range tahun 1950-1980 dengan industri. Prinsipnya sederhana. Meniru segala hal. Jepang pada waktu itu terkenal dengan barang murah, cepat rusak, dan tidak berkualitas. Jepang tidak peduli dengan predikat tersebut. Dengan arah jelas dalam membangun, Jepang menerapkan identitas akan produk-produk yang dibuatnya, konsisten dengan rencana yang dibuat, dan mempunyai tujuan yang terus diperbaharui. Perlahan maju dan sekarang menjadi salah satu negara dengan industri terbesar di dunia.

Contoh kedua adalah Apple. Apple pada saat ini merupakan salah satu perusahaan yang terbesar di dunia dengan keuntungan yang luar biasa. Apa kunci yang dipunya oleh Apple? Inovasi dan quality control yang sangat baik, sehingga menghasilkan produk yang baik sebelum dilempar ke pasaran. Oke, coba kita tantang Apple. Handphone sudah dari zaman dulu ada. Lebih spesifik lagi, handphone touch screen sudah ada yang membuat sebelumnya, dan berbagai contoh lainnya misalnya tablet dan lain hal. Namun, coba kita lihat dari sudut pandang lain. Paket yang Apple tawarkan sangat memikat. Produk yang dihasilkan Apple seakan barang yang sempurna, bahkan bagi sebagian orang Apple selalu menciptakan “Produk yang baru”.

Disini kita ditantang untuk mencoba melihat dari sudut pandang yang berbeda. Sesuatu yang baru itu bukanlah sesuatu yang belum pernah diciptakan, namun merupakan suatu hal yang membutuhkan sisi kreatif dari otak kita sehingga membuat paket yang menarik, menjual, indah, serta susah dilupakan karena sangat menggoda.

Kembali ke kasus latah sebelumnya. Kita bisa ambil contoh dari kasus Jepang. Kita “meniru” itu harus ada sesuatu yang kita kembangkan sendiri, yang akan menjadi identitas kita sendiri. Akan tidak etis apabila kita meniru sama persis tanpa membangun keunikan terhadap produk yang kita hasilkan. Ketidaketisan ini selain merusak tujuan kita dalam berkarya, juga akan berperkara dengan hukum dengan urusan melanggar hak paten.

Saya lebih suka melihat hal yang baru ini sebagai inspirasi. Bagaimana suatu hal menjadi inspirasi kita dalam membangun hal yang baru. Tirulah konsep, dan kembangkan menjadi sesuatu yang baru sesuai dengan versi kita sendiri. Analisa apa kekurangan hal tersebut, dan kembangkan ke arah yang lebih baik. Itulah keindahan dari “meniru”.

Namun, apabila ditelisik lebih jauh. Tingkatan tertinggi dari seorang yang kreatif adalah menciptakan yang baru, totally fresh from oven. Yang kemudian dibungkus dengan kreatifitas dalam membangun image, menjual, dan mengembangkan hal tersebut agar lebih sempurna.

Kunci dari hal ini adalah jangan terpaku akan “baru” itu sendiri. Baru adalah label yang disematkan. Inti dari semua hal tersebut adalah semangat untuk membangun, semangat untuk memperbaiki, dan semangat untuk menjadi yang terbaik.

 

Darwin Susanto

Darwin Susanto

Diving to Digital Marketing, and believe Marketing must be fully supported by Creativity and Technology.