Nasi padang

Ada 2 makanan yang susah gw tolak, kalau diajak makan or ditawari. Yang pertama adalah Mie (dan Indomie) dan yang kedua adalah Nasi Padang.
Gw mau cerita terkait Nasi Padang. Ini cerita masa kecil, yang kenapanya gw bisa suka nasi padang.

Papa gw dulu kerjanya kalau di sekolah diminta isi untuk paperworks sekolah, gw tulisnya "Buruh harian", disuruh oleh Mama dulu. Buruh harian mungkin bahasa halusnya untuk "Kuli Bangunan", memang Papa kerjanya kuli bangunan. Jadi tukang bangun rumah di Bangka dulu, kerja harian, dibayar harian. Jadi kadangkala, dia dikasih makan siang gitu Nasi Padang. Dia ga makan, karena dia pasti bawa bekal dari rumah. Nah nasi padang itu dibawa pulang ke rumah, dan dikasih ke anaknya.

Gw dan adek gw, ntr bagi dua harta karun itu. Kami memang sangat jarang makan nasi padang waktu kecil, jadi nasi padang ini adalah makanan mewah bagi kami berdua. Jadi kalau dibawain pulang nasi padang, pasti kami berdua senang luar biasa. Wong kami beneran jarang makan nasi padang, dan harga nasi padang menurut keluarga kami itu mahal.

Nasi padang memberikan kesan yang mendalam. Kesan, kalau Papa itu lebih pentingin anaknya daripada dia sendiri.
Makanan (terasa) enak itu karena kita mensyukuri apa yang didapat.
Hidup sederhana dan tidak berlebihan, membuat nyaman di rumah.
Nasi padang membuat masa kecil gw dulu menjadi menarik dan indah.


Ini sedang renov rumah sedikit, dan para tukang sedang lembur sampai malam. Gw baru balik kerja, dan ngobrol sebentar dengan salah satu tukang. Gw tanya, udah makan belum. Dia jawab, "Belum, nunggu kerjaan beres dulu". Gw lihatin, juga mereka ga ada yang bawa bekal, kalaupun bawa bekal pasti cuma untuk makan siang.

Nasi padang, ide yang bagus.

Gw mikir, gw beliin Nasi Padang aja untuk mereka, termasuk untuk gw sendiri. Menu yang sama. Gw minta mereka istirahat sebentar, makan malam dulu. Gw makan bareng mereka dan mengucapkan terima kasih udah bantu di rumah.

Dan berusaha untuk tidak merasa berbeda dengan mereka, ataupun punya derajat yang lebih tinggi dari mereka. Dan berusaha semakin menyadarkan diri sendiri, kita itu semuanya sama.

Kita sama-sama manusia.

Darwin Susanto

Darwin Susanto

Diving to Digital Marketing, and believe Marketing must be fully supported by Creativity and Technology.