Orang yang selamat

Dari Desember 2019, udah terdengar desas desus, Corona Virus, namaya waktu itu belum Covid-19. Gw mulai mengikuti topic ini, memantau beberapa news online. Kekhawatiran mulai muncul. Tapi, ya begitulah Darwin, bodo amat sih. haahahahaha.

Februari 2020, Jess udah full armor. Dia udah beli masker untuk dewasa dan anak-anak. Sudah beli semua multivitamin (A, B, C, D, F, K, L, Q dll). Sudah beli UC1000 SATU KULKAS, IYA, SATU KULKAS isinya UC1000. Sudah beli desinfektan berbagai jenis, dari yang cair untuk di rumah, sampai yang semprot2 versi mini untuk tarok di tas, semprotan gede untuk bersihin mobil dan kartu debit, CC, dan gagang pintu. Sebelum semua harga mahal dan ga make sense karena pada banyak yang opurtunis. Istilahnya keluarga kami sudah siap "perang" dengan COVID-19, berkat Jess.

Kami, sudah Remote Working atau Work From Home dari awal April. Dan misalnya, worst scenario saya perlu keluar untuk beli makanan atau sesuatu yang urgent, saya dilengkapi peralatan perang yang super lengkap oleh Jess.

Plus kalimat seperti :
"Jangan deket-deket ma orang"
"Jangan sok akrab ma orang, jaga jarak aman"
"Waktu bayar, lihat depan dan orang di belakang. Marahin aja kalau ada yang dekat-dekat"
"Abis pulang, mandi, keramas. Jgn deket-deket anak-anak dan oma dulu".

Kondisi COVID-19, extra-ordinary condition. Seumur-umur hidup, ga pernah mengalami kondisi separah ini, dan impact ke 1 dunia.
Perlu kewaspadaan detail.
Perlu orang telaten kayak Jess.
Perlu disiplin.

Yang jadi masalah utama adalah ini adalah tidak ada prediksi dan kapan akan berakhir kondisi ini.

Jadi (ada kemungkinan) saya ga selamat dari pandemi ini, kalau bukan karena Jess.

Tapi ya, kadang, melihat kedepan gmana baiknya. Terlalu stres dalam jangka waktu lama juga akan ga baik untuk diri.
Tapi orang yang nyantai seperti saya, mungkin juga bisa jadi bencana untuk orang lain.

Darwin Susanto

Darwin Susanto

Diving to Digital Marketing, and believe Marketing must be fully supported by Creativity and Technology.